KEHILANGAN (+999)

Barangkali rindu yang tak akan pernah sirna adalah rindu kepada orang tua kita yang telah tiada. Itu karena semakin lama waktu berjalan, perasaan seseorang kepada orang tuanya (umumnya) tak pernah sirna, tak pernah terlupakan, tak pernah surut. Tidak seperti cinta kepada lawan jenis yang barangkali bisa saja surut tergerus waktu, kepada orang tua perasaan seorang anak memiliki siklusnya sendiri.


Saya adalah satu dari sekian milyar anak manusia yang sudah merasakan kehilangan orang tua. Dalam kasus saya kehilangan ini terjadi akibat datangnya maut, hadirnya kematian yang memisahkan.

Ayah yang kemudian disusul Ibu, tiba-tiba menghilang, lenyap dari permukaan bumi bersamaan dengan butiran-butiran tanah yang kami pakai untuk menguburkan jasadnya. Hilang, tak pernah muncul kembali.

Terkadang saya memaksakan menganggap ini adalah bagian dari mimpi didalam tidur yang panjang . perih dan penuh pilu …


Sebagai seseorang yang terlahir dalam agama yang indah ini, saya meyakini beberapa ketentuan tentang manusia akan mati, kehidupan-kehidupan setelah mati, dan kisah-kisah mengenai hari akhir dan hari perhitungan. Seringkali berpikir sendiri, andai saja saya tak meyakini ISLAM barangkali saya bisa gila karena akal saya tak sampai ketika memikirkan “orang mati itu kenapa dan kemana”.

 bahwa doa dua orang tua dan doa anak untuk orang tuanya adalah satu dua jenis doa yang banyak dikabulkan Allah ta’ala. Bahkan ketika seseorang wafat, hal yang tak terputus baginya selain amal baik semasa hidup, ilmu yang bermanfaat, termasuk di dalamnya doa anak yang soleh. 

Ada seperbagian dari doa yang saya panjatkan terutama selepas sholat yang saya plot-kan untuk mendoakan Ibunda dan Ayahanda. Duduk dan tertunduk menengadah tangan. Meminta dan meminta hal-hal baik baginya.

Saya mendoakannya berulang-ulang. Sesempit apapun waktu dimana saya tak berlama-lama duduk berdoa, doa untuk ibu dan ayah saya dipastikan selalu ada.

Sementara di sebelah saya terhalang tembok/tabir dimana saya yakin ibu dan ayah duduk disana mendengar setiap doa yang saya kirim. Tersenyum, penuh hatiny, baik-baik saja dan dikelilingi kebaikan.


Berdoa barangkali satu2nya penyambung rindu jika memang berjumpa lagi saat sudah terpisah begini itu sulit. Berdoa menentramkan si hati dengan keyakinan-keyakinan baik terhadap Allah. Pun menentramkan si jiwa dengan keyakinan bahwa doa yang diucap selalu akan berbuah kebaikan kepada almh Ibu dan alm Ayah

 Rindu adalah pemandu anak-anak seperti saya untuk duduk bersimpuh mengirimkan doa.


Seperti malam ini, malam dengan rindu yang banyak sekali. Semoga doa-doa yang selalu terucap sampai dan dijadikannya kebaikan.


Kepada Ibunda dan Ayahanda yang tiada usainya kurindukan—-

Advertisements

Fajar atau Senja (?)

Ibarat fajar, yang menjemput sang mentari. Terang benderang hangatkan langit. Dengan anggun menyinari sisa embun di pagi hari. Datang penuh isyarat memulai kisah dan kasih. Terang, tetap terang meskipun barisan pohon tebu saling menyilang, cahaya mu membias di celah dedaunan. 
Namun aku tau, Fajar tak selamanya. 

Harus berganti siang

Harus berganti malam
Harus ada senja yang memisah.
Senja mengisyaratkan berakhirnya cerita-cerita 

Menjemput malam dan kegelapan. Langit menanggalkan terang, menyisakan sunyi diam-diam.

Sekali lagi. Senja adalah akhir dari sebuah hari. Yang memaksa untuk pulang. Membuat apa-apa yang telah terjadi, tersusun dalam rangkaian kisah-kisah dan kenangan di kemudian hari. 

Senja selalu tenang. Senja selalu sepi. Sunyi

Senja merona, tidak sedang marah. Mungkin tengah tersenyum setengah malu. Banyak. Banyak yang mengunggapkan cinta padanya sore ini. 

Senja mengajarkan tentang kehilangan. Tentang merelakan.
Senja membisik pada semesta. 

Bahwa terang tak selalu ada.

Apa yang ada bersama dengan kita, tak mesti selamanya. Semua ada masanya. 

Pare, Kediri 26 Augustus 2017

R I N D U ( Segenggam Rindu untukmu )

Debur kecil ombak tanjung Benoa

Ditepian ku hembus nafas panjang

Betul-betul ku tumpah sesak dari dalam dada

Untuk semua kata-kata yang tak pernah sempat ku urai satu-persatu

ㅤㅤ

ㅤㅤ

Bukan karena tak mau,

Hanya saja aku tak mampu

Tidak untuk sakit yang berulang 

ㅤㅤ
Pantai yang mengores luka

Tak kapok jua aku bersua

“Apa kau baik-baik saja” ku berbisik pada diri ku dalam hati

Kepada angin, kepada lautan, kepada butiran pasir 

ㅤㅤ

ㅤㅤ

Ku pejamkan mata sembari mengusir bayang dan kenangan yang menyayat perasaan

ㅤㅤ
Inginku hempas menjauh segala 

Segenggam rindu perlahan berjatuhan

#nostalgia

Pernah suatu ketika aku bercerita tentang masa kecil dengan seorang yang tua senja. Katanya, nostalgia masa kecil itu seperti penawar keriduan ditengah renggang otot dan kikuk sendi-sendi masa tua. Bak dua kutilang yang saling manut-manut, kami terduduk mengikis sangkala. Aku teringat bagaimna diriwayatkannya kisah-kisah muda penuh gairah. Dan diriku beserta cerita-cerita imoed khas kanak-kanak. Kita menjadi remaja, dewasa, tua, lalu mati. Bisa kah sesederhana itu saja? 

Aku muak. Bahkan untuk sekedar tau bahwa bayangan adalah kamu yang penuh khianat — ㅤㅤ

ㅤㅤ

ㅤㅤ

Makassar, 18 Juli 2017

#yukNgaji

Mereka yang sejak awal bersandar, semangatnya takkan pudar. Mereka yang sejak awal berserah, takkan mudah berkelu kesah.

Kadang ada yang bertanya kenapa saya terlihat begitu bahagia, seolah tak ada beban, dan selalu enjoy dalam hidup, kayaknya tidak punya masalah, anteng. Makan, tidur enak (saking enaknya….badan jadi membengkak ndak ketulungan). Saya sebenarnya serba salah untuk menjawab, Hhhehe.. Kalau ada yang mengenal saya sejak dulu, atau mungkin dua atau 3 tahun terakhir saja.. Mengikuti atau berteman dengan saya diakun-akun media sosial. Pasti akan tau seberapa “ALAY”nya saya ini, mengumbar kesedihan, memamerkan penderitaan, tak tanggung-tanggung membagikan cerita memilukan sekaligus memalukan. Yap, seperti itulah saya dulu (sekarangpun MASIH 😭😭😭,saat ini tengah berusaha mem”filter” tulisan agar tak melulu terkesan menyedihkan, am trying to share a lot of happiness 🙂 mohon do’anya yh gaes) 

Entahlah, terasa lega sekali saat berhasil menunjukkan “hey, look at me! Saya sedang menderita” 😓😓😓 Tetapi, perlahan saya belajar, bahwa dengan memberi tau semua orang bukanlah penyelesaian dari apa yang tengah saya hadapi. Saya belajar, bahwa orang pertama yang harus saya andalkan adalah diri saya sendiri. Saya berusaha tidak menjadi si cengeng yang ke sana ke mari mencari pundak untuk menangis. Saya berusaha tidak lagi jadi si manja yang merepotkan banyak orang untuk hal-hal yang bisa saya lakukan sendiri. Saya berusaha menyakinkan siapa pun bahwa saya bukan sekedar “sendiri” tapi “mandiri”. 

Bukan. Bukannya tidak membutuhkan orang lain, hanya saja saya belajar untuk merasa nyaman melakukan banyak hal sendirian.

Kemudian, saya merasa menemukan sebuah jalan dari permasalahan hidup, kebingungan, keresahan, kehampaan, kesepian, dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. Ketika memilih untuk tidak lagi membiarkan luka sembuh dengan sendirinya, pun menyimpan kedukaan dalam diam…sendirian. saya mencoba mengobati luka dan kedukaan itu. It never gets easier. But, saya menemukan #ISLAM 🙂 Alhamdulillah… 

Dulu, saya tidak pernah sekalipun dengan sungguh-sungguh berpikir untuk mendekat pada Agama. Jika sedih, saya menangis. Bila bahagia, saya tertawa. Hanya itu, sekedar seperti itu saya memberi nilai pada dinamika kehidupan ini. Saya sangat ahli menuntut dan menyalahkan takdir. Mengapa begini, mengapa begitu??  Tanpa sadar, seperti apa diri saya, seberapa layakkah saya untuk meminta sesuatu. Paling senang meratapi nasib, membanding-bandingkan dengan kehidupan dan kebahagiaan orang lain, menangisinya, bahkan menyimpan kedengkian-kedengkian dalam hati. Miris ! Astaghfirullahhh ….

Alhamdulillah..

Diantara tanda kebaikan keISLAMAN seseorang  adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya” (HR. At-Tirmidzi)

“sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat  Allah hanyalah orang-orang kafir” (QS Yusuf [12]:87)

Harus bangkit. Harus berdiri. Jangan jatuh. Jangan kalah. Jangan lemah. Jangan bersedih! 

MaasyaaAllah

Itulah mengapa ISLAM ini sangat indah, sangat membahagiakan. Baru sejengkal saya mendekat, see… Nikmat ALLAH berdatangan tanpa henti, sampai kadang terharu dengan pertolongan dan kebaikan-kebaikan ALLAH 😭😭😭😭😭

Kenikmatan dan kesengsaraan datangnya bergantian. Masing-masing tidak bisa dipastikan mana yang bertahan lebih lama. Setiap kita tentu ingin kenikmatan itu ada selamanya. Mungkinkah?  Tentu saja ! Caranya dengan mensyukurinya. Bahkan dengan syukur, kenikmatan ini akan berlipat. Ingatlah janji ALLAH 

sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan tambahkan nikmat kepada-Mu,tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim [14]:7)

Bersabarlah untuk segala kesengsaraan!  😊😊

“kapan datang pertolongan ALLAH?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan ALLAH itu dekat (QS. Al-Baqarah [2]:214) 

So guys… Meskipun kita tidak dapat mengendalikan keadaan, kita masih mampu untuk meningkatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan, banyak hal rumit akan terpecahkan. That’s why it’s too important untuk kita belajar tentang ISLAM #yukNgaji 🙂 

Kehilangan adalah pelajaran Dan do’a… 

“The best thing for being sad is to learn something. That’s the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder in your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatic, or know your honour trampled in the sewer of baser minds. There’s only one thing for it then—-To learn. Learn why the world wags and what wags it” kutipan sebuah buku berjudul -the once and future King- karya T.H.White. 

Adalah memaknai kehilangan sebagai pelajaran.. Dan do’a menjadi pelipur diantaranya. 

Saya sangat percaya dengan kekuatan do’a, sebab do’a memiliki potensi mengubah segalanya bagi diri kita. Mengubah sesuatu yg tdk mgkin menjadi mungkin, mengubah yg buruk mnjdi baik, menyelamatkan kita, keluarga, saudara dan semuanya dari bencana dan keterpurukan. Kehilangan pasti ada. Siapapun pernah dan akan mengalaminya. Namun kehilangan sama sekali tidak boleh menjadikan kita

Lemah dan lelah, berputus asa dari rahmat Allah. Berdo’a kpd Allah berarti meminta sesuatu kpd Yang Maha Memiliki. Bila Allah ridho, maka segalanya akan menjadi mudah. Sebab Allah berkuasa mengabulkan do’a seseorang yg meminta kapanpun dan dimana saja. Berdo’a tdk akan ada ruginya. Do’a itu dahsyat guys… Jangan sekalipun meremehkan kekuatan do’a. Trust me, it works ! 💜 “Dan Tuhanmu berfirman, ‘berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin :60) 

Anyway… “Jaga keselamatan anda di jalan” salah satu tip agar orang2 terkasih dan anda sayangi terhindar dari sebuah “kehilangan” 😊😊😊 (Makassar. Syawal, 1438 H)

Merayakan Hari raya

ujian keimanan sesungguhnya adalah ketika sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita direnggut begitu saja. tanpa sebab apa-apa, tanpa penjelasan apa-apa, kecuali bahwa karena itu sudah takdirNya. ku baca sepenggal kalimat ini dalam sebuah buku..betulkah?  inikah ujianku?  ujian keimananku? ujian terbesar bagiku ? ingin tertawa saja rasa nya. aku kalah, saat tak seharusnya kalah. kepada siapa sebenrnya amarah ini?  kepada hidup yang begitu tak bisa ku kendalikan ini? kepada diriku yang malu atas kebodohan menganggap Tuhan mengambil banyak hal dengan semenah-menah?  amboy ! 
apa hanya aku saja yang selalu gagal bersuka cita dalam merayakan hari raya semisal Iedul Fitr ? 
Hari Raya bagiku adalah pusara.. 

mengais luka-luka yang tak kunjung sembuh.

bukan. bahkan tak pernah kering maksudku..
bertahun-tahun yang semakin tak terbilang, aku selalu belajar untuk mencoba ..

perlahan mengobati diri ku, menyembuhkan luka ku, menghilangkan duka ku seluruhnya.. 

nihil. nyaris tak ada suatu yang berarti apa-apa 
Adakah seseorang yang menginkan leyap sehari-dua hari dari muka bumi hanya karena sebuah perayaan? aku lah orangnya. ada sesuatu yang membuat dada ku sesak hanya karena menekan ❤ untuk sebuah gambar di layar hand phone.. bukan. bukan satu, tapi banyak .hampir-hampir aku sulit bernapas karenanya.. 
Hari Raya bagiku adalah pusara..

duduk temenung bersama doa-doa dan sisa-sisa kisah yang bukan sepenuhnya kenangan. banyak yang ku ciptakan sendiri di dalam kepala ku ini, segala yang ku harap terjadi. tapi sesungguhnya tak pernah terjadi. HHHHH!!!!
Hari Raya bagiku adalah pusara..

bergegas sesegera mungkin untuk pergi 

entah untuk membuang duka,

atau lari dari luka . 

“maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa. walal-aakhi ratu khayrun laka minal uulaa” – Tuhan mu tiada meninggalkanmu dan tidak pula benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu dari pada yang sekarang (permulaan) 

Tetes Gerimis

Tetes-tetes gerimis hujan yang mereda

Jatuh bersahutan berlomba bergelung turun kebawah menyentuh tanah

Ku habiskan malam-malam ku

Menikmati rintik melodi hujan yang romantis dan aroma tanah semerbak dari sepoi hembus angin yang menusuk gigil setelahnya

Dalam kesendirian yang sunyi

Aku berpuisi

Meski didalam hati

Segala kecurangan dan ketidak adilan bahkan rindu telah habis ku caci

Selain menyimpan luka dalam diam

Akupun piawai menggerutu kala sendirian

Barangkali hanya aku yang berdiam dalam sayup keheningan

Yang merintih menunggu matahari terbit menerangi kegelapan subuh yang dingin 

Aku diam

Diam-diam menyeka amarah yang mengalir

Menghela napas lalu ku lepaskan satu per satu amarah ku

Beterbangan mencari cela di jendela 

Pergi menyambut hangatnya pagi 

Atau mungkin terseret gemerincik hujan yang tak kunjung usai —- 

Makassar, 23 Oktober 2016

Sepotong Hati Penuh Luka (#SHPL1)

Tentang sepotong hati yang tergeletak penuh lebam

Disembunyikannya dengan rapih ,
Disembunyikan dari hati-hati yang lain. Ia terluka, tapi seolah paling bahagia. Ditutupinya, nyaris sempurna. Bagai hati yang paling kuat. Darah yang meleleh dibalutnya hingga tak terlihat.
Hati yang sangat pandai bersandiwara.

Malam salah beri jawaban. Senjapun keliru hadirkan harapan. Masihlah saja ia senang menatap senja, dan terdiam menunggu malam yang sunyi senyap. Acap kali dipermainkan oleh bias-bias hangat senja yang menyengat, pun cahaya rembulan dan bintang-bintang malam yang berpura-pura menerangi sandiwaranya, tetap saja ia menyebutnya kawan baik.

Hati yang patah terbasahi hujan air mata. Tuli dalam keheningan. bisu dalam kepedihan. Nista dalam kegelapan. Dirasanya ada yang sakit, ada yang rusak, ada yang tidak beres. Hati, hatilah … Hanya hati

Dituliskannya luka perih yang menghamba pada langit. Dilembar kertas takdir, dengan tinta darah hitam. Kemudian dibakarnya dengan api yang menyala-nyala. Membara penuh amarah. Dibakar menjadi abu yang kemudian beterbangan menyelimuti tubuh, lagi-lagi luka tak mau pergi. Tak lagi ia mampu meramu pahit menjadi manis. Sakit ini begitu beringas memangsa rasa, tak kenal ampun.
Menjerit, berteriak pada riuh hingga memecah gendang telinga

Tuhan teramat tahu,
Hati berlinang duka, tiada mampu mengusap dada melulu. Ingin rasa ia menggigil mati hingga beku memutih. Hingga hilang duka. Hingga hilang semua luka —